Posted by: djarotpurbadi | April 15, 2009

Gorabangsa, Simbol Kejujuran Pemimpin

KOMPAS: Rabu, 15 April 2009 | 13:23 WIB

Oleh Yoga Putra

Di masa lalu menjadi seorang pemimpin rakyat di Kulon Progo bukanlah perkara mudah. Seorang calon pemimpin harus melalui tes kejujuran dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam lubang kentongan pusaka bernama Kyai Gorabangsa.

Apabila kedua tangan itu dapat dengan mudah keluar dari lubang kentongan, calon pemimpin tersebut diyakini memiliki hati dan pikiran yang jujur serta bersih. Sementara bagi mereka yang berhati busuk pasti akan kesulitan mengeluarkan tangan dari lubang Kyai Gorabangsa.

Kyai Gorabangsa memang tidak seperti kentongan pada umumnya. Kentongan yang diperkirakan telah ada sejak zaman pemerintahan Ratu Sanaha dari Kerajaan Mataram Kuna abad ke-6 itu memiliki ukuran panjang sekitar 2 meter dengan diameter lebih kurang 50 sentimeter. Di tengah kentongan itu terdapat sebuah lubang memanjang dengan lebar sekitar 15 cm.

Menurut pemerhati budaya Kulon Progo, Sugeng Santosa, kentongan itu bisa awet karena dibuat dari kayu jati khusus dari Hutan Donoloyo yang berada di Wonogiri, Jawa Tengah. Kayu jati donoloyo terkenal sebagai bahan baku pembuatan aneka jenis pusaka kerajaan yang ampuh.

Selain Kyai Gorabangsa, terdapat satu kentongan lain bernama Joko Lawung yang berada di Purworejo. “Kyai Gorabangsa kemudian disimpan di kompleks Kantor Kecamatan Pengasih. Diperkirakan kentongan itu dibawa ke sana saat Kulon Progo beribu kota di Pengasih, sekitar tahun 1912,” kata Sugeng, Selasa (14/3).

Menilik sejarah pembentukan wilayah, Kabupaten Kulon Progo dulu terdiri atas dua kadipaten, yakni Adikarta yang meliputi Perbukitan Menoreh di utara dan Kulon Progo yang mencakup dataran rendah dan pesisir di bagian selatan. Dua kadipaten itu kemudian bersatu pada tahun 1951 dan berubah nama menjadi Kabupaten Kulon Progo.

Sugeng menuturkan, fungsi asli kentongan Kyai Gorabangsa adalah sebagai alat tabuh pengumpul warga. Akan tetapi, seiring perjalanan waktu, kentongan itu kian dikeramatkan oleh warga. Kentongan mulai kerap diikutkan dalam berbagai perhelatan ritual kebudayaan, termasuk salah satunya proses pemilihan calon pemimpin.

Akan tetapi, peran penting kentongan Kyai Gorabangsa pun mulai pudar sejak ibu kota Kulon Progo pindah ke Kecamatan Wates, sekitar 1951. Kentongan itu hanya didiamkan saja di Kantor Kecamatan Pengasih. Meskipun masih kokoh, ia tidak pernah lagi ditabuh.

Baru pada 2004, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kulon Progo mengategorikan Kyai Gorabangsa sebagai salah satu benda cagar budaya. Kentongan itu lalu dibersihkan dan dipindahkan ke Museum Bale Agung yang ada di kompleks Kantor Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Wates.

Pengunjung museum bisa melihat kentongan itu di sudut tenggara ruangan dikelilingi seperangkat alat musik gamelan kuno. Kentongan Kyai Gorabangsa dibungkus kain batik dan ditempatkan di sebuah bilik kecil yang diberi kain warna hijau tua sebagai tirainya.

“Kami mengategorikan Kyai Gorabangsa sebagai alat musik tradisional kuno. Itulah mengapa kentongan itu diletakkan bersama dengan gamelan dan gong,” kata Kepala Seksi Sejarah dan Kepurbakalaan Kulon Progo Singgih Hapsoro.

Kendati berhasil selamat dari ancaman kepunahan, Sugeng menilai, kentongan Kyai Gorabangsa saat ini tidak lebih dari sekadar benda mati yang telah kehilangan nilai-nilai luhur kebudayaan. Masyarakat modern tidak lagi menghormati benda-benda bersejarah peninggalan para leluhur, apalagi sampai melibatkan fungsi benda-benda itu dalam kegiatan mereka.

“Saya berharap, pemerintah daerah bisa mengembalikan nilai-nilai luhur tersebut dengan cara mengenalkan kembali Kyai Gorabangsa kepada masyarakat, mungkin melalui acara kirab budaya atau acara adat lain,” ujar Sugeng.

Kyai Gorbangsa merupakan bukti kejujuran para pemimpin di masa lalu, sifat yang mungkin saat ini semakin langka dijumpai. Kejujuran hanya menjadi slogan politik yang kerap diumbar pada masa-masa kampanye pencalonan diri sebagai wakil dan pemimpin rakyat.

Jika saja tradisi memasukkan tangan ke lubang kentongan Kyai Gorabangsa masih bertahan, mungkin tak banyak orang yang berani maju sebagai calon pemimpin. Seorang pemimpin tak hanya dituntut cerdas, cakap, dan berjiwa besar, tetapi juga jujur dan berjiwa bersih. Hal itu bukan sesuatu yang mustahil karena rakyat Bumi Menoreh pernah membuktikannya ratusan tahun silam….


Responses

  1. Menarik bagaimana kita memperlakukan benda bersejarah seperti kentongan ini. Yang dilakukan dengan membungkus kain batik, menyimpannya bak benda keramat saja seperti ini sudah kurang manfaat cenderung musyrik kalau menurut Islam. Diarak dalam pawai pun setali tiga uang.

    Mengapa tidak dikenalkan dalam bentuk publikasi yang kreatif mengenai filosofi komunikasi jaman dulu yang di instrumentalisasikan ole si kentongan ini. Dalam ilmu komunikasi sudah diakui bahwa kentongan, asap orang indian, surat, telepon, dan internet adalah media komunikasi.

    Nilai musyawarah, bertukar pikiran dsb. lah yang seharusnya disimbolisasikan oleh benda ini. Bukan pengkultusan yang justru membuat museum makin dijauhi pengunjung karena merasa tidak mendapat ilmu dari gedung ini.

    Terimakasih
    Pecinta Museum.


Leave a response

Your response:

Categories