Tuesday, March 10, 2009 10:48 PM
Mas Djarot dkk,
Menarik sekali ide Mas Djarot ini. Saya jadi melihat kiri kanan siapa tahu ada yang bisa ditulis untuk Mas Djarot. Hasilnya, sepertinya akar budaya orang KP sebagian besar bukanlah budaya tinggi atau istana. (Kalau dilihat dari tebaran artefak jaman jawa kuno, kalau tidak salah, terkonsentrasi di Jogja, Sleman, Magelang, dan Muntilan. Tetapi hampir tidak ditemukan peninggalan bersejarah di tlatah KP)
Jadi, boleh jadi kita harus memandang ide mendokumentasikan arsitektur KP dari sudut ini, yaitu bahwa KP dibangun oleh sebuah komunitas petani yang adoh ratu cedak watu. Jadi saat melihat arsitekturnya pun bisa jadi lebih dekat dengan realitas jika melalui pendekatan ini.
Rumah-rumah penduduk KP adalah kearifan petani (peasant) dan priyayi petani bukan para pangeran dan raja-raja. Maka lahirlah konsep rumah dengan istilah yang sangat rakyat sekali, seperti: cere gancet, limasan, atau atap miring yang saya lupa namanya. (Yang disebut terakhir ini justru sedang populer di jagad desain arsitektur minimalis.)
Denah rumah kalangan rakyat, bisa kita lihat dari susunan rumah Mbah-mbah kita. Biasanya ada sumur di luar sebelah kanan, sebagai sediaan bagi para tamu dan kebun serta binatang piaraan. Kemudian emper (teras) sebagai foyer menuju gandhok tengah (ruang tamu) yang diapit gandhok kiwa dan tengen.
Di belakang ruang tamu adalah senthong tengah diapit dua pintu yang dua-duanya menuju komplek pawon yang dihubungkan dengan ruang terbuka yang bisa menjadi tempat menjemur jarik, sarung, dll atau makanan sisa seperti sega aking, rengginang dan intip. Hasil bumi untuk keperluan sehari-hari pun bisa dikeringkang di tempat ini seperti jagung, kacang, atau gaplek.
Area ini akan sangat bermanfaat manakala ada hajatan, karena bisa disulap menjadi dapur restoran selama seminggu nutug yang luar biasa ramai dan seronok.
Di ujung sebelah kiri komplek ini adalah sumur njero yang diperuntukkan bagi keperluan dalam rumah. Pawon biasa dilengkapi dengan paga yaitu tempat menyimpan kayu atau hasil bumi lainnya.
Finishing rumah yang menarik adalah digunakannya (maaf) kotoran kerbau atau sapi sebagai pelapis gedheg pengganti gebyog, sehingga bambu bisa tahan lama dan hangat luar biasa. Apalagi ditambah dengan eternit dari bambu yang disebut empyak.
Kalaupun kebetulan si eMbah adalah petani priyayi atau perangkat desa, Gebyog sebagai dinding depan pastilah bukan gedhek. Tetapi juga bukan gebyog ala Kudus Jepara yang rumit luar biasa dan mahal itu. Tetapi hanyalah rangkaian kayu jati tebal yang bergaya kotak-kotak yang ditengahnya ditempatkan sebuah lawang kori yang dikunci dengan palang pintu yang kokoh. Demikian pula joglo yang dibangun tepat di depan emper biasa dibangun oleh keluarga yang cukup mampu, namun lagi-lagi tidak berupa joglo yang mewah penuh ukiran, melainkan hanya soko guru dengan susunan kayu jati ditengahnya, dilengkapi pagar keliling dari papan kayu yang berlubang panjang-panjang berjajar dengan ujung-ujung berbentuk diamond.
Akibat involusi tanah dan warisan bentuk rumah seperti ini telah banyak yang hilang. Bangunan kemudian berubah menjadi “inpres” kemudian dilafalkan “impres” merujuk pada arsitektur SD Inpres yang sederhana dan fungsional.
Demikian menurut saya sebuah arsitektur khas masyarakat petani KP yang dahulu begitu berselera estetis tinggi (dalam tingkat kemampuannya) meskipun dalam segala keterbatasannya.
Generasi rumah Inpres, adalah potret masyarakat yang sangat mendambakan kemajuan keluarga melalui pendidikan sehingga bisa jadi pamong, pegawai, atau priyayi lain (asal bukan pedagang!) Tetapi akhirnya dikecewakan juga oleh pendidikan yang tidak menjamin apapun ketika sudah dijalani dengan menjual tanah dan ternak akibat pendidikan yang menghamba pada ijazah di era kemarin (dan juga sekarang?). Sekarang masyarakat sedang labil tak punya keyakinan jika dibanding Bapak Ibu kita dulu yang masih percaya anaknya bakal sukses dengan sekolah tinggi. Apalagi biaya kuliah sekarang sudah sangat-sangat mahal .. naudzubillah.
Salam,
Atr